9.11.11

'Untitled'



Tatkala nekad telah membungkus hati
Entah ke mana dari bumi siapa
Darah merah mula dipenuhi pasrah
Bebenang takdir itu terus terpintal
Kain kehidupan itu terus terbentang
Ucap istighfar haruslah terus dilantunkan
Agar pengorbanan tetap punya nilai.

Khayr Annisa
091111

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

10.10.11

Tampal III-IV

Tampal III



Tampal IV
"Semua orang di dunia ini bukan pemalas, tetapi cuma tidak termotivasi."
[Helvy Tiana Rosa; SERUMPUN 081011]

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

5.10.11

Senyumlah

Pada suatu pagi, di dalam sebuah kelas..
"Kenapa akak asyik tersenyum-senyum dari tadi?" Tanya saya kepada seorang kakak yang asyik tersenyum sejak saya tiba di dalam kelas itu.
"Saja je nak senyum kat kamu. Boleh kan?" Dia bersuara.
Saya tersenyum, lalu menjawab, "Boleh.. tak salah. Cuma pelik. Pelik tengok akak asyik tersenyum dari tadi."
"Dapat pahala kan kalau senyum?" Dia bertanya.
"Haah.. kenapa?"
"Tak ada apa. Kita buatlah yang mudah-mudah untuk dapat pahala. Senyum tu kan sedekah."
Saya mengangguk tanda setuju, tersenyum mendengar penjelasannya.
Benar.
Senyum itu sedekah yang paling mudah.
Tapi, ianya mestilah dilakukan kerana Allah dan pastikan senyum itu benar-benar lahir dari hati.

Senyum merupakan sebahagian daripada sunnah Rasulullah saw.
Senyum baginda bersinar dengan cahaya.
Senyumlah di kala senang dan susah. Hadapilah kesenangan dan kesusahan dengan senyuman.
Senyum seindah suria
Yang membawa cahaya,
Senyumlah dari hati,
Duniamu berseri..


Senyum umpama impian,
Dalam kehidupan,
Kau tersenyum ku tersenyum,
Kemesraan menguntum.


Senyum
Kepada semua,
Senyumanmu amatlah berharga.


Senyum
Membahagiakan,
Dengan Senyuman terjalinlah ikatan.
Saya kira ramai yang mengetahui lagu ini. Lagu yang sangat ringkas, tapi memiliki mesej yang jelas.
SENYUM :)
Ya, S.E.N.Y.U.M.
Tapi, biarlah bertempat!

عن أبي ذر رضي الله عنه قال : قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تلقي أخاك بوجه طليق. رواه المسلم

Daripada Abu Dzar r.a berkata : Rasulullah SAW telah berkataku : “Janganlah kamu memandang rendah (mencela) sesuatau kebaikan, sekalipun kamu berjumpa saudara kamu dengan muka yang berseri-seri”. [HR Muslim]

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

4.10.11

Cawan Tinta Kembali Berisi

Kalau tiada secawan tinta,
Takkan kugubah sebaris puisi;
Kalau bukan kerana cinta,
Takkan aku menulis di sini.

Kata Sayyid Qutb,
Inilah hasil keimanan,
Iman yang kukuh dan subur.
Membuka mata dan hati,
Menumbuhkan kepekaan,
Menyirami kejelitaan, keserasian dan kesempurnaan.
Iman adalah persepsi baru terhadap alam,
apresiasi baru terhadap keindahan,
dan kehidupan di muka bumi,
di atas pentas ciptaan Allah,
sepanjang malam dan siang..

Wahai diri yang merindui pengislahan,
Inilah hadiah untuk kalian,
Ayuh, mari direnungkan!


Nota Entri:
*Sayyid Qutb ialah seorang tokoh muslim yang aktif dalam gerakan dakwah dan penulisan. Penulisan-penulisannya menjadi panduan dan sumber inspirasi kepada para petugas Islam. Antara karangan beliau ialah Tafsir Fi Dhilal al-Quran dan Petunjuk Sepanjang Jalan.
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

26.8.11

Malaysia Merdeka 1432H

 Semoga pakaian taqwa menjadi perhiasan kita yang paling indah nanti.
Ramadhan masih berbaki lagi, malam al-Qadar mungkin masih belum dilalui. Ayuh!

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

22.7.11

Singgah


Diam lama. Bungkam sahaja.
Bukan tidak ada modal untuk bercerita.
Tapi, tuntutan komitmen yang perlu diutama.

Saya:
“Ini pilihan saya.”
“Ini keputusan saya.”
Dia:
“Ini bukan jaminan kamu ke syurga. Tapi, inilah peluang amal untuk kamu ke syurga.”

Satu amanah dipikul.
Saya terpukul.
Sudah selamat.
Segalanya tersemat.
Moga beroleh barakah daripada-Nya,
Dia Tuhan Yang Esa.

Untuk memahamkan manusia, kita perlukan kesabaran, kebijaksanaan, kesungguhan dan banyak lagi. Semoga Allah membantu saya dan kamu yang membaca.

Allah, jangan jadikan kami pemimpin dan hamba yang celaka.


Hujung Entri:
Mungkin ada yang tidak faham tulisan dalam entri persinggahan ini. Maaf dipinta. Saya tidak tahu hendak memulakan yang mana dan mengakhirkan yang mana. Yang terkini dan pasti, saya perlu pergi. Berkelana lagi. Sehingga ketemu nanti.
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

15.7.11




Berjalan mencari ibrah. Redah.




___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

13.7.11

Psst!


I love Allah
just like I love my solah
and people say masya-Allah.
I just want to thank you Allah
for everything you’ve given me
I don’t want to be ungrateful
or sinful.

You see people are asleep,
and don’t even wake up to the beep of fajr
to claim the ajr !
How can one be so ignorant to the prophet’s message?

Ohh.. I fell in love with all these words. Really!

“Aku menyintaimu kerana AGAMA yang ada padamu. Jika kau hilangkan AGAMA dalam dirimu, hilanglah CINTAku padamu.”
[Imam Nawawi]
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

12.7.11

Hati

Apabila iman tiada di hati,
Perasaan benci mula menghantui,
Apabila iri hati bertakhta di hati,
Perasaan dengki menjadi-jadi.
Wa al-’iyadzu billahi..

“Ataukah mereka (orang-orang Yahudi) dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya?”
[Surah an-Nisa’ : 54]

Hujung Entri:
Ya Allah,
selamatkanlah kami,
selamatkanlah agama kami,
selamatkanlah kami dan agama kami.
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

8.7.11




Berkelana lagi. Sepi.




___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

7.7.11

Jernih


Aduhai!
Indahnya, bahagianya,
jikalau Tuhan Yang Maha Memberi
mengurniakan hati yang berkeping-keping
jernih sekali rupanya kepadaku.

Oh, alangkah!
Ingin sekali kupunyai
hati putih bak gelas jernih bersih.

Andai ada sebutir debu
walau hanya halus tirus,
mataku pasti mudah sahaja melihatnya.

Andai ada kesalahan dilakukan,
cepat sekali hati khalis itu merasakan.

Tidak sibuk menyalahkan yang lain,
tetapi sibuk menilai diri.

Oh, alangkah!
Beruntungnya orang yang berhati bersih,
seperti gelas jernih yang di dalamnya ada cahaya.
Selain bisa menerangi seisi gelas,
ia juga bisa menerangi sekitarnya.

Yang mengharap,
Khayr Annisa

___________________________________________________________________________________ 
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

6.7.11

Juang

Perjuangan..
dirintis oleh orang-orang yang alim
difikirkan oleh orang-orang bijak
diperjuangkan oleh orang-orang yang ikhlas
dimenangkan oleh orang-orang yang berani.

Tapi,
perjuangan itu
seringkali..
dinikmati oleh para pengecut!

Benarkah?


Hujung Entri:
Ayuh! Mari berfikir. Lantunkan zikir.
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

Harapan


Bismillahi..
Mari lakarkan senyuman!

Entah, tidak tahu hendak mulakan yang mana. Terlalu banyak perkara yang ingin disampaikan, banyak yang hendak dikhabarkan. Namun, terkadang lenyap dimamah masa.

Apapun, setiap kali bangkit dari tidur, yang pastinya tika dan saat itu, syukur dipanjatkan kepada satu-satunya Ilah dan Rabb, Allah swt. Setiap kali itu jualah, harapan disematkan agar dunia ini akan bertambah kebaikannya, bertambah orang-orang yang suka pada jalan-Nya. Dan setiap kali mata ini terbuka, jiwa ini berharap agar masa silam tidak lagi menghantui perjalanan hidup hari ini, tidak lagi menjadi batu penghalang besar untuk hati ini, jasad ini menjadi insan yang bertaqwa. Moga-moga.

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan yang sia-sia dan senda gurau yang melalaikan; sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Tidakkah kamu berfikir?”
[Surah al-An’am : 32]

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

5.7.11

Susahnya!


Hari ini, saya ingin membongkar sesuatu. Sesuatu yang berkaitan dgn manusia. Perihal tabiat manusia. Tabiat yang seringkali dipandang remeh. Apa dia?

Alasan. A.L.A.S.A.N

Perkataan yang seringkali disebut dan didengar, sehingga menjadi kebiasaan.
Something to ponder.. Apakah ALASAN?

Quoted from a famous book author:
(saya pernah membaca bukunya, tapi tak ingat judul buku dan nama penulisnya)
"Alasan merupakan senjata atau lebih tepat lagi ia adalah satu mekanisme perisai yang seringkali digunakan untuk mematahkan serangan bicara pihak lawan. Sedar atau tidak, alasan adalah sesuatu yang melambatkan kita."

“Bila nak berhenti merokok ni bang?”
“Alah Jijah.. bila bekalan rokok di seluruh dunia ni dah habis, abang berhenti lah..”
Lalu, si suami merokok sepanjang hidupnya kerana bekalan rokok masih belum habis. Doktor mengesahkan bahawa si suami mengalami penyakit radang peparu. Penyakitnya semakin kritikal. Ditakdirkan pada suatu hari, si suami meninggal dunia akibat penyakit yang berpunca daripada rokok itu.


“Malik, dah siapkan kerja sekolah yang cikgu bagi?”
“Alah mak ni.. balik-balik tanya soalan tu. Nanti lah Malik siapkan, cuti ada seminggu lagi.”
Seminggu berlalu. Malik tidak menyiapkan kerja sekolah yang diberi oleh gurunya. Sedikitpun tidak diselesaikannya kerana langsung lupa. Hari pertama persekolahan selepas bercuti, Malik didenda kerana tidak menyiapkan kerja sekolah yang diberinya.

Acapkali, kita cenderung untuk mencipta 1001 alasan untuk diri sendiri dan kita juga ciptakan khas 1001 kesalahan untuk orang lain.
“Elehh.. dia ingat bila 'dressing' macam tu boleh masuk syurga lah tu.. Hei, walaupun aku tak menutup aurat, tapi hati aku baik tau!”

Imam Al-Ghazali pernah berkata,
“Sewajarnya kita mencari alasan bagi keterlanjuran sahabat itu sehingga 70 alasan.”

Instead of giving excuse, why don’t we critic ourselves? It’s a good habit actually.

Monolog dalaman,
“Apa yang aku dah buat untuk Islam?”
“Hari ini, apa yang aku buat untuk Allah?”

Bagi meningkatkan kualiti peribadi diri, muhasabah adalah perkara utama yang perlu sentiasa dilakukan, perlu sentiasa diutamakan. Apa salahnya kita luangkan empat hingga lima minit untuk merenung kembali apa yang telah kita lakukan sepanjang melalui kehidupan pada hari-hari yang kita lalui?

"Bagi tiap-tiap umat yang ada di antara kamu, Kami jadikan (tetapkan) suatu Syariat dan jalan agama (yang wajib diikuti oleh masing-masing). Dan kalau Allah menghendaki nescaya Dia menjadikan kamu satu umat (yang bersatu dalam agama yang satu), tetapi Dia hendak menguji kamu (dalam menjalankan) apa yang telah disampaikan kepada kamu. Oleh itu berlumba-lumbalah kamu membuat kebaikan (beriman dan beramal soleh). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, maka Dia akan memberitahu kamu apa yang kamu berselisihan padanya."
[Surah al-Maidah : 48]

Ketahuilah bahawa kata-kata yang keluar dari mulut kita bukanlah sesuatu yang boleh djadikan A.L.A.S.A.N apabila berhadapan dengan Allah swt nanti. Siapa kita untuk memberi alasan di hadapan Allah?


Allahu a’lam.
Semoga ada yang bisa dijadikan iktibar.


___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

4.7.11

Terasing

Sang Pencerah

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Sahihnya dari jalan Abu Hurairah r.a, beliau berkata; Rasulullah s.a.w bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”
(HR. Muslim [145] dalam Kitab al-Iman.Syarh Muslim, 1/234)

"Agama itu bukan rangkaian aturan-aturan yang bisa dipermudah atau dipersulitkan.
Agama itu sebuah proses, seperti udara pagi yang kita hirup secara perlahan-lahan ke tubuh kita.
Menyegarkan hati dan pikiran kita.
Bayangkan yang kita hirup itu angin puting beliung.
Tubuh kita tidak hanya hancur, tapi terhempas tak berdaya.
Dibawa arus tak tentu arah."

"Apakah kita rela melihat umat kita berserakan dan lari,
menjauh dari agama - hanya kerana kita salah memberikan pengertian?"

[ Kiyai Ahmad Dahlan: Sang Pencerah ]


Hujung Entri:
Sungguh, saya tidak rela!
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

1.7.11

s.p.i.r.i.t


Berbahagialah orang yang
berhati
TULUS
dalam setiap tarikan nafasnya,

yang senantiasa
IKHLAS
menjalani apapun ketentuan
dan
jalan hidup yang Allah berikan untuknya,

yang senantiasa
BERBAIK SANGKA
bahawa sesulit apapun perjalanan
jika dilalui dengan
harapan dan doa
akan menuju
akhir yang gemilang.

Insya-Allah.


Hujung Entri:
*Rupanya, sudah dua hari blog ini tidak dikemas kini dengan entri baru. Semoga Allah masih mengizinkan saya untuk berbahagi lagi di sini. Doakanlah.
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

28.6.11

Kalaulah Kalau

Kalaulah aku pohon merimbun
akan kupayungi insan kerdil
dari panas, hujan dan embun.

Kalaulah aku pohon berbuah lebat
akan kugugurkan buah manis dan lazat
untuk insan kerdil yang memang berhajat.

Kalaulah aku air mengalir tiada putusnya
akan kubiarkan insan kerdil kehausan
meneguk daku sepuas-puasanya
dan
kalaulah aku halilintar ganas
akan kulibas semua insan
kejam yang selama ini menindas
agar hancur berkecai ditelan bumi.

Alangkah bahagianya kehidupan
kalau semuanya saling bergandingan
tiada penindasan
tiada pertelingkahan
tiada penipuan.

Kalaulah keamanan dan keadilan
dapat ditegakkan
nescaya bersinarlah cahaya kedamaian.

Puteh Hashim
Kajang, 1 Mac 1998


"Ingin sekali aku menjadi pohon yang merimbun dan berbuah lebat itu.
Ingin sekali aku menjadi air yang mengalir tanpa pernah putus itu.
Ingin sekali aku menjadi halilintar yang ganas itu.
Ingin sekali, aku menjadi penegak keamanan dan keadilan itu."

Duhai hati, dengarlah suara yang berbisik ini!

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

27.6.11

Hakikat


___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

26.6.11

Pecut!


Satu
Tak terucap. Tercungap. Huh!

Dua
Memikirkan sepuluh perkara berbeza dalam satu masa  saya jadi lelah. Terasa bagai dikejar anjing buas yang kelaparan. Mengejar bersungguh-sungguh tanpa sempat menoleh kiri kanan. Saya lari lintang-pukang. Mahu selamat daripada menjadi makanan anjing girang. Huh! Memecut memang memenatkan.

Tiga
Saya bertambah semput jika berfikir tanpa mengungkap zikir. Seharian dada saya terasa sesak gara-gara tilawah setengah juzuk al-quran tidak sempat dikhatamkan sebelum suria menumpahkan cahaya putihnya ke atas bumi yang luas berhamparan. Dan insan kerdil ini bertambah lemah apabila setengah lagi juzuk kitab suci  punya azimat itu tidak dapat dihadam sebelum menjelang maghrib yang damai.

Empat
Sungguh, saya berasa lelah memikirkan hal dunia. Sangat. Sangat-sangat lelah.
Melihat lompong kosong dalam ruang mutabaah amal saya jadi parah!

Lima
Hhmm.. Dunia yang salah atau saya yang walah?
Memang sifat dunia yang melelahkan atau niat saya yang tidak diluruskan?

Enam
"Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami (keredhaan Kami), sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredhaan; dan sesungguhnya pertolongan dan bantuan Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya."   [al-'Ankabut : 69]

Saya yang silap. Barangkali. Saya yang salah.
Redha tidak diletak di puncak. Hanya terletak di pundak.

Tujuh
Wahai diri,
Jangan biar semput berfikir tanpa zikir.
Jangan biar diri melelah tanpa tilawah.
Jangan dibiar ruh yang terkontang-kanting.
Jangan dibiar iman yang bercompang-camping.

Lapan
"Dan ingatlah, sesiapa yang bertaqwa kepada Allah, nescaya Allah memudahkan baginya segala urusannya. Peraturan-peraturan yang demikian adalah hukum-hukum Allah yang diturunkan dan diterangkanNya kepada kamu; dan ingatlah, sesiapa yang bertaqwa kepada Allah, nescaya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahannya, dan akan membesarkan pahala balasannya."   [at-Tolaq : 4-5]

Sungguh, saya tidak mahu menjadi hamba yang malang. Tidak mahu. Tidak mahu. Tidak mahu.

Sembilan
“Ya Allah, izinkanlah hamba-Mu memanjat tangga taqwa sekalipun dalam keadaan merangkak-rangkak.”
Saya pasti doa ini akan jadi panjang lagi. Ada koma. Tiada noktah.

Sepuluh
Cukup setakat ini. Titik.

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

24.6.11

Layang Sayang


Ku baca Firman Persaudaraan

Ketika ku baca firman-Nya, “Sungguh tiap mukmin bersaudara”
Aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan
Tak perlu, kerana ia hanyalah akibat dari iman.

Aku ingat pertemuan pertama kita,
Dalam dua detik, dua detik sahaja,
Aku telah merasakan perkenalan bahkan kerasian
Itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
Dengan iman yg menyala, mereka telah muwafakat
Meski lisan belum saling sebut nama dan tangan belum berjabat.

Ya, ku baca lagi firman-Nya, “Sungguh tiap mukmin bersaudara”
Aku makin tahu, persaudaraaan tak perlu dirisaukan...

Kerana saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justeru melukai
Aku tahu, yang robek bukan ukhuwah kita
Hanya iman-iman kita yang sedang sakit atau mengerdil
Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
Tentu lebih sering, imanku yg compang-camping.

Ku baca firman persaudaraan,
Dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan,
“Para kekasih pada hari itu, sebahagian menjadi musuh sebahagian yang lain,
Kecuali orang-orang yang bertaqwa.”

Salim A.Fillah
Dalam Dakapan Ukhuwah


Hujung Entri:
*Terima kasih kepada dia yang melayangkan tulisan ini ke peti mel saya. Dia yang saya percaya. Dia yang saya cinta. Semoga kami dan kalian tetap bersama melangkah hingga ke hujung nyawa. Ukhti, maafkan ku bila tak sempurna. Terima kasih, kak!


___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

23.6.11

Titis Gerimis


Ada keresahan yang tidak mampu kita ubati meski telah membuat temu janji dengan ahli psikologi. Ada kerenyahan yang tidak dapat kita hindari meski telah menghadiri majlis-majlis dzikrullah wa dzikrul’ilmi.

Bukan doktor psikologi itu yang salah, tetapi kita yang tidak mencermati setiap butir kata yang diberi. Tidak ikhlas berusaha memperbaiki diri. Bukan juga majlis zikir yang salah, tetapi sikap batin kita yang tidak merendah hati saat menghadirinya. Kita datang hanya kerana ingin mencari keasyikan menangis. Tidak cukup dengan itu, kita tidak sungguh-sungguh dalam mengingatinya-Nya.

Kita tahu, menangis saat beribadah adalah sebahagian tanda mencintai Allah. Oleh sebab itu, kita berusaha meraih tandanya dengan menumpahkan air mata. Kononnya, air gerimis yang menitis dari pohon mata kita menceritakan kecintaan kita kepada-Nya. Padahal butir kaca yang terbentuk di kolam mata itu hanyalah tulisan pudar yang mahu dibuat label pada diri. Kita menangis bukan kerana benar-benar mencintai-Nya, bukan kerana takut dengan azab-Nya. Kita menangis kerana mahu ditanda sebagai orang yang mencintai-Nya.

Aduh, ruginya kita! Saat pahala mengalir tidak henti-henti, kita terkial-kial menadah dengan tangan kiri dalam keadaan hilang sebelah kaki. Kudung kaki yang kanan, maka tangan kanan pula sibuk memegang tongkat buat mengimbangi. Sifat tamak menghantui tanpa disedari membuatkan kita berlari-lari tanpa menoleh kanan dan kiri sehingga dilanggar niat yang tidak diperbaharui. Akhirnya, pahala yang tertadah di tangan kidal itu jatuh berhamburan dan kita telah kewalahan untuk menadah lagi.

Tiada salahnya kita berusaha untuk menangis. Bahkan itu yang dianjurkan kepada kita untuk melakukannya. Menangis itu keperluan kerana ia sebahagian fitrah perasaan. Menangis itu kepuasan kerana ia sebahagian pelepas tekanan. Menangis itu juga kenikmatan kerana ia sebahagian anugerah Tuhan.

Salah kita pada sebab kita menangis. Niat kita bukan kerana Dia. Maka, titik halus yang jatuh tidak putus-putus di pipi mengalir tanpa erti. Menitis bukan secara semulajadi, bahkan tiada rasa takut yang menyertai. Sedarilah, Tuhan kita memang tidak boleh dibohongi. Sungguh!

Istighfar. Istighfar. Istighfar. Doa. Istighfar lagi.

Semoga Allah membersihkan hati. Kita bukannya utusan mulia yang dibawa malaikat suci ke telaga zamzam yang diberkati untuk dibelah dada buat dibersihkan hati. Kita bukannya Muhammad yang dikurniakan mukjizat keramat. Kita manusia biasa yang selalu leka. Selalu lupa. Sekali lagi, doa. Istighfar lagi.  

Astaghfirullah.
Astaghfirullah.
Astaghfirullah. 
Semoga Allah mendengar istighfar ini.


Nota Entri:
*kerenyahan: kegelisahan
*dzikrullah wa dzikrul’ilmi: mengingati Allah dan menyebut ilmu
*kewalahan: tidak berdaya


___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

21.6.11

Indah Manusia Pada Bahasa


Kadang-kadang keluar bahasa yang tidak indah dari mulut kita. Tidak sedap didengar. Bahkan tidak enak ditelan. Sesiapa sahaja yang mendengarnya, dia pasti akan menutup habis corong telinganya. Betapa sumbang irama yang dihasilkan oleh getar peti suara yang kurang ajar. Bila ditegur, makin jadi melenting. Berkeras lagi.

Kadang-kadang kita tidak sedar. Ada jiwa-jiwa yang berungutan lantas memutuskan tali ikatan persaudaraan dan hubungan berkasihan. Lari ke dalam dunia yang konon-kononnya aman, tapi hakikatnya penuh dengan kesakitan. Dada mereka sesak. Mulut mereka bisu. Mata mereka buta. Telinga mereka tuli. Kasihannya, orang-orang ini sering sahaja digeruni.

Komunikasi. Ini keperluan kita. Ini keperluan kesihatan fizikal dan mental kita sebagai manusia. Memang tidak dinafikan, ada manusia yang kurang siuman gara-gara memencilkan diri di bumi dan duduk terperuk dalam galaksi ciptaan sendiri. Bukan itu sahaja, malahan penyakit kurang siumannya itu mula membarah. Lebih parah lagi apabila semua manusia menjauhi dirinya dek rasa takut yang menghantui, sedangkan insan bernasib sebegini haruslah didekati. Ada juga yang perasan besar, berlagak pandai sehingga dalam bercakap pun main hentam tibai. Langsung tidak beralas, asal maksud sampai. Sakit tersinggung orang, tua muda orang sedikit pun tidak dinilai.

Mengasingkan diri. Islam TIDAK meminta kita melakukannya sehingga kita langsung tidak peduli apa sahaja yang berlaku di tempat sendiri apalagi di bumi yang terhampar luas ini. Memang benar Rasulullah s.a.w menghabiskan masa beruzlah sendiri di Gua Hira’, menjauhkan diri daripada masyarakat Arab yang dibaluti karat tebal jahiliyah. Jika baginda tidak berkomunikasi dalam kelompok masyarakat baginda sendiri, sudah tentu baginda tidak bersendiri di gua berbarakah itu. Sekiranya Rasulullah s.a.w yang kita rindui itu tidak kembali ke dalam kelompok masyarakat baginda setelah diturunkan 'ayat-ayat cinta' Ilahi, maka sudah pasti Islam tidak sampai ke hati kita kini.

Berkasar bahasa. Islam TIDAK juga menyuruh kita berbicara ikut kehendak hati sehingga orang-orang yang kita cintai melarikan diri. Tetapi, Islam yang kita anuti mendidik kita agar berbudi. Bertuturlah dengan sopan agar telinga yang mendengar menjadi senang. Bersantunlah dalam percakapan moga dengannya hati menjadi tenang. Mari kita soroti sepotong nasihat daripada 'dia' yang kita rindui.

Daripada Abu Hurairah r.a., bahawa Rasulullah SAW telah bersabda:
"Barangsiapa yang beriman dengan Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia berkata baik atau dia diam. Barangsiapa yang beriman dengan Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia memuliakan jiran tetangganya. Barangsiapa yang beriman dengan Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia memuliakan tetamunya."
HR Bukhari dan Muslim

Dalam hadith ini, dikatakan bahawa orang yang beriman mestilah berbicara sesuatu yang bermanfaat atau diam sahaja sekiranya tidak punya apa-apa modal buat dijaja. Sabda baginda lagi, orang beriman mestilah memuliakan tetangganya. Tidak cukup dengan itu, mesti juga memuliakan tetamunya.

Sejak dahulu saya mahu menjadi muslimah mukminah. Cita-cita saya besar. Mahu tinggal berjiran dengan 'dia' di syurga. 'Dia' akan memuliakan saya sebagai tetangganya atau setidak-tidaknya saya yang memuliakan 'dia' sebagai tetangga saya. Tapi, untuk mencapai cita-cita itu, saya perlu terus-menerus memperbaiki iman, juga amal saya. Murabbiyah saya kata, amal mestilah berkadar langsung dengan iman dan begitulah sebaliknya!

Semoga kalian membantu saya dengan izin-Nya. Amin, amin, amin. 


Nota Entri:
*beruzlah: mengasingkan diri, bersendiri
*mukminah: perempuan beriman
*murabbiyah: pendidik perempuan

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

19.6.11

Nostalgia


Tahun 1998
mencatat sejarah penubuhan
detik-detik menghimpun sejuta harapan
tegar berdiri menganyam selautan impian
meraih segunung angan-angan.

Segalanya masih tersimpan dalam memori
terkenang di lapangan hati
tergambar di hadapan diri.

Wajah-wajah lama
mengimbau segala suka duka peristiwa
pahit manis tika bersama
berjuang meniti usia.

SAM BESTARI,
kini namamu seharum kasturi
terbias jauh seindah pelangi
secerah mentari pagi yang menyinari
membina citra milik diri
melahir insan daie bestari.

Duhai anak-anak bangsa,
datanglah dengan rela
penuhi ilmu di dada
bukakan ruangan di minda
akhlak terpuji dipelihara
kelak dirimu kan berjaya
di dunia sementara
mahupun di akhirat selamanya.

SAM BESTARI,
harapanku agar kau terus maju
berdiri gagah, padu selalu
membina insan bermutu
dilimpahi rahmat dan direstu
oleh ayah ibu dan guru
teman dan rakan seguru
serta Tuhan Yang Satu.

TERIMA KASIH, SAM BESTARI!


Cetusan Pena:
Khayr Annisa (5 Al-Biruni)
Majalah Al-Imtiyaz 2006, halaman 114.

Hujung Entri:
Oh! Rindu kembali bertamu. Mungkinkah jasad ini kan berkhidmat di situ, sebagai guru?
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

18.6.11

'Al-Imtiyaz'ku



Naskhah majalah empat tahun tua diincar. Rupanya masih elok. Cuma ada beberapa halaman yang sudah tertanggal dari tetulang. Kulitnya berhabuk sedikit. Lebih bersih daripada sebelum ini. Baru minggu lepas dibelek-belek. Dan minggu ini dibelek lagi. Majalah lama itu benar-benar menyentuh hati tuannya. Helaian demi helaian diimbas. Gerakan tangan terhenti. Khali sejenak. Terpana melihat "Madah Ibunda". Tersenyum sendiri. Helaian seterusnya dilihat sekelebat. Tersenyum lagi. Bagai ada anekdot atau kisah indah di sebalik potret yang masih segar terakam di muka-muka majalah.

Sungguh, tuan majalah itu kelihatan seperti sudah tidak siuman. Semacam telah hilang akal. Seakan-akan kena sampuk semangat cinta. Ya! Memang tuannya telah disampuk semangat itu. Bahkan sejak dulu. Sungguh, cinta tuan majalah itu masih belum pudar. Cintanya kepada madrasah dalam majalah itu masih belum pergi.





Hari ini, seharusnya saya berada di tiga tempat yang berbeza. Sudah tentu di kawasan yang tidak sama. Bangi. Subang Jaya. Kuala Lumpur. Seharian saya berkelana di selatan negeri sendiri. Sudah pasti jasad kecil ini tidak berdiri di madrasah pagi tadi. Bersama warga Bestari dan ahli alumni. Semestinya juga tidak di ibu negara bagi menghadiri sesi audisi di sebuah stesen TV islami. Saya punya prioriti. Memilih bukan ikut kehendak hati. Tapi, berpasak pada janji. Sungguh!

Dan saat menulis entri tidak berisi ini, saya diam di rumah sendiri.

_
Nota Entri:
*diincar: diperhati, dibelek
*khali: senyap
*sekelebat: sekali imbas
*anekdot: kisah lucu
*berkelana: berpergian, mengembara
*madrasah: tempat belajar
*audisi: uji bakat
*prioriti: keutamaan

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

17.6.11

Dapat Tak?


Apa yang sepatutnya ada untuk menggantikan tanda soal?
Pilih jawapan yang betul.


___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

16.6.11

Nah, ambil kau!

Spatula api kemarahan telah kusimbahkan
ke muka ganas orang cilik berlagak besar
yang telah membuatkan jiwa bening ini lelah dan sesak.
Aduh, pedih sekali! Sakitnya hati bagai dihiris-hiris pisau belati
yang dilibas-libas si penjenayah tertinggi
yang juga sudah tidak punya nilai manusiawi.

Hei, Israel!
Kau akan kalah nanti! Kau akan kalah!
Sesungguhnya Tuhanku telah berjanji bahawa
kerajaan Islam akan berdiri lagi.
Kau tidak tahukah?

Ah! Percuma sahaja bercakap dengan
si penjahat lahanat seperti kau!
Tiada guna! Sia-sia!

Kau tunggu, Israel! Kau lihat, Israel!
Aku tahu kau licik! Sangat licik!
Tapi, jangan kau sangka aku bodoh.
Aku tak akan jadi lembu kau
yang bisa kau cucuk-cucuk hidungnya
lalu kau tarik-tarik ke arah tompokan-tompokan
nafsu hitammu yang busuk itu!

Kau tahu Israel, sayap kezaliman yang kau tebarkan
hanya menyempitkan dada manusia seperti aku!
Berani-berani kau memijak mengheret kami.
Tidak malukah engkau pada dunia yang akan
menyelak kain-kain yang kau buat tutup agenda tengikmu
di akhirat kelak?!

Oh, aku terlupa.
Buat apalah aku bertanya soalan sebegini.
Engkau sudah tidak punya perasaan, bukan?!
Engkau memang sudah tidak punya hati, bukan?!

Israel, dengar sini!
Kau akan jatuh! Kau pasti jatuh!
Aku yakin. Aku percaya dengan kata-kata Tuhanku.
Tuhanku tidak pernah memungkiri semua janji-Nya.
Dialah Tuhan Yang Maha Besar.
Dialah Tuhan Yang Maha Benar.

Islam, aku akan tetap mendukungmu ke manapun aku pergi.
Sebentar lagi, dengusan nafas sucimu akan kedengaran di seluruh pelosok bumi.
Percayalah! Takbir!

Semoga Allah terus memegang hati kita dan membaluti tubuh kita dengan kekuatan. Amin!


___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

15.6.11

Mengintai Hening Dalam Sibuk

Ada ketika kita perlu mengambil jarak sejenak
dari kesibukan yang membuatkan jiwa dan badan kita lelah dan penat.

Ada kala kita harus menemukan ketenangan dan kedamaian hati
tatkala bertambahnya kekayaan yang melekakan.

Ada masa kita perlu berdiam diri sejenak di saat bertambahnya
kesibukan kita yang semakin menyibukkan hati dan fikiran
dengan hiruk-pikuknya dunia yang sesak.

Ada waktu kita perlu bertanya tentang iman kita
dengan memperhatikan amal-amal kita.

Ada masjid yang tersergam indah, tapi kosong dari hidayah.

Kita sibuk memegahkan bangunan, sedangkan tetangga masjid
yang kekurangan mencari santunan daripada orang yang tidak seiman.

Kadang zikir kita tak mengantarkan kepada ketenangan,
padahal seharusnya zikir menjadikan hati kita tenang
sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran.

Bukan al-Quran yang salah memberikan perintah,
tetapi kita yang tidak beringat bahawa iman harus disertai dengan amal soleh.

Sebahagian orang berzikir bukan untuk mengingati-Nya,
tetapi sekadar mahu merasai ketenangan setelah sekian lama merasai keringnya hati.



Sudah saya katakan, saya tidak mahir menulis. Apatah lagi berkias seperti orang lama. Tulisan ini saya salin daripada sebuah buku, Membuka Jalan ke Syurga. Begitu terkesan dengan setiap butir aksara yang disusun kemas memberi makna. Saya duduk, merenung dan berfikir. Lantas, saya menulisnya di sini untuk diri sendiri. Semoga saya ingat apa yang saya tulis hari ini kerana sesungguhnya saya seorang yang lupa.

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

14.6.11

'BusyBees'

Jawapan Imam Ahmad ibn Hanbal ketika beliau ditanya:
“Bilakah seorang hamba itu boleh beristirehat?”
Beliau menjawab, “Nanti ketika kakinya menginjak syurga.”

Oh! Sesungguhnya tidak seharusnya saya beristirehat. Begitukah?

Hujung Entri:
Jom jadi macam lebah!

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

10.6.11

Si Pelupa

Ada yang kadang saya lupa.
Kadang juga saya tidak tahu harus melakukan apa.
Saya ingin sekali dekat dengan Tuhan
agar masuk ke dalam golongan orang-orang yang dicintai-Nya,
tetapi saya lupa bahawa ada sesuatu yang harus saya lakukan
untuk menyirami iman yang masih gersang ini.

Saya sibuk mengurus tugasan sehingga saya lupa
hak-hak manusia yang sepatutnya saya penuhi.
Ibu. Bapa. Adik. Saudara muslim.
Saya sibuk membeli keperluan yang diperbuat daripada bahan yang terbaik,
sementara ada saudara-saudara saya yang hampir
tidak sanggup menegakkan kepala
kerana rasa lapar yang mencekam,
atau kerana tidak berdaya mencari sekeping syiling buat biaya persekolahan.

Sungguh!
Saya sering lupa. Saya mudah lupa.
Berilah nasihat dan peringatan
kiranya terjumpa si pelupa ini di mana-mana.

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

9.6.11

KICT-INSTED : Treshold Version

Suatu hari, pasti saya akan merindui tempat ini.


___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

8.6.11

Analisis Resepsi

“Kita ada beberapa jenis audiens aktif yang mahu kita sasarkan dengan dokumentari drama kita ini,” Zulkifli menambah.

Syarifah pasang telinga.

“Khalayak yang menonton bagi menjauhkan diri daripada rutin ataupun masalah peribadi,” ujar Zulkifli.

Escapism?” balas Syarifah.

“Betul,” Sofea menyahut.

“Ada juga audiens yang menjadikan filem ini sebagai satu bentuk hubungan. Media ini menjadi seperti kawan buat mereka.” Zulkifli kembali menerangkan inti gagasan pendekatan kritis.

Moviegoer?”

“Betul.” Sofea menoleh ke belakang, melihat Syarifah membuka buku catatan kecil langsung mencatat.

Zulkifli meneruskan bicara, “Kemudian ada audiens yang menjadikan filem atau media ini sebagai model, mereka mahu meniru dan menjadikan apa-apa yang didapati daripada filem itu sebagai panduan atau pedoman.”

“Identiti peribadi?”

“Betul.”

Zulkifli melihat Syarifah terkebil-kebil dari cermin hadapan. “Paling akhir filem dikatakan menjadi sumber keperluan untuk kita mengetahui perkara sebenar.”
Surveillance?” tanya Syarifah.

“Betul.”

“Jadi kita mahu rangkul dan kuasai paling tidak tiga jenis audiens terakhir untuk dokumentari-drama kita ini.” Suara Zulkifli keras bercanggah dengan bunyi hon di luar.

Dr Faisal Tehrani, Sebongkah Batu di Kuala Berang, PTS Litera Utama Sdn Bhd, Selangor, 2011, halaman 71-72.

Seputar
Tunak saya membarisi ayat demi ayat di helaian putih novel Sebongkah Batu di Kuala Berang. Baru separuh naskhah saya mengamatinya. Perlahan-lahan cuba menghadam. Maklumlah, saya bukan orang sastera juga bukan pandai sejarah. Dalam novel ini, penulis yang menerima Anugerah Seni Negara 2006, Dr Faisal Tehrani telah mempertemukan teori kedatangan Islam ke Tanah Melayu dan praktik dunia industri hiburan. Alur ceritanya menarik dan berisi. Banyak sekali unsur sejarah yang dimasukkan. Tidak kurang juga selok-belok mengusahakan industri hiburan.

Oh, saya tidak merancang untuk mengulas panjang kecuali nilai yang tersepit antara babak-babak ilmiah yang begitu membina pemikiran pembaca khususnya yang menjadi Melayu dan Islam.

Berbalik kepada petikan pendek yang termaktub di permulaan entri ini. Petikan tersebut saya kutip daripada bahagian lima novel tersebut. Sungguh, membikin filem tidak semudah meneguk air tebu sejuk yang tersedia di tangan. Mungkin sahaja habis segelas buat membasahkan tekak yang ketandusan.

Pembikin-pembikin filem harus lebih matang menyusun jalan cerita begitu juga nilai murni yang mahu diterapkan. Negara kita kekurangan filem yang dapat meraih penonton yang mampu membaca filem seperti teks. Ada fakta, bukan auta. Tersisip juga contoh yang mendidik akal dan jiwa. Benar dan telus. Mungkin ini pandangan Dr Faisal Tehrani yang cuba dibawakan kepada pembaca-pembaca tulisannya. Jika benar, bermakna saya tidak silap memahami.

Escapisme
Saya lihat, rata-rata penonton di negara kita kurang faham dan tidak dapat mentafsirkan mesej media dengan baik dan tepat. Mereka jenis escapism barangkali. Menonton hanya kerana mahu melepaskan diri daripada kesempitan dan kesesakan jiwa. Sekadar berhibur. Lepas tonton, hilang stres. Ini contoh melabel! Tidak, ini bukan melabel, tapi mengagak. Salahkah mengagak? Mungkin dengan agakan inilah kita mampu mengubah cara.

Moviegoer
Orang kata, kalau mahu tahu siapa dan bagaimana diri kita, minta dilihat siapa dan bagaimana pula individu yang paling dekat dengan kita. Boleh jadi ahli keluarga, boleh jadi teman rapat, dan saya mahu menambah satu. Genre filem. Genre filem yang sering ditonton atau genre cerita yang sering dibaca. Oleh sebab ada audiens jenis moviegoer, sering menonton kerana suka (hobi) atau cinta sehingga movie diiktiraf sebagai kawan, maka saya menambahnya dalam senarai individu yang paling dekat dengan manusia (sekalipun movie atau drama bukanlah orang yang mempunyai roh, akal dan jiwa). Kalau yang dekat dengan kita baik, maka cantiklah kita. Jika sebaliknya, faham-faham sahaja ya.

Identiti Diri
Siapa sudah menonton Nur Kasih The Movie? Saya belum tonton lagi, sebab tidak suka ke panggung. Bahkan tidak pernah pun. Entahlah, saya kira lebih baik saya membeli VCDnya yang asli. Boleh ditonton berkali-kali, dipinjamkan kepada yang sudi. Tidak rugi. Kembali kepada soalan saya tadi. Kepada yang sudah menontonnya, sudah pasti kalian mahu menyusuri alur cerita movie cinta dan pengorbanan itu, bukan? Mahu meneliti yang mana nilai soleh dan yang mana nilai toleh (jahat), kemudian diturutinya nilai-nilai soleh dalam kehidupan sendiri. Jika sudah menyoroti dan mengadaptasi, tahniah! Jika belum, mungkin perlu menghitung lagi.

Suveillance
Golongan ini memilih. Hanya menonton filem bermutu. Filem yang punya nilai estetika tersendiri. Bukan main belasah asal jadi cerita. Bagi mereka, dalam filem ada kebenaran. Mereka benci kepalsuan. Palsu dalam isi cerita. Bohong, tidak telus. Sehingga mereka tidak ragu. Hati mereka terbuka. Minda mereka terpelihara. Waras mereka terbela. Akhirnya, mereka jadi orang bijaksana. Nah, kumpulan inilah yang kita mahukan. Kelompok ini jugalah yang kita harapkan.

Saranan
Pembikin-pembikin filem Malaysia, bikinlah filem atau cerita yang bukan sekadar menghiburkan audiens tapi memandaikan audiens. Anak-anak Malaysia, pilihlah filem atau cerita yang bukan sekadar menghiburkan kita tapi memandaikan kita.

Filem adalah penghibur. Filem dikira sahabat. Filem jugalah identiti. Filemlah pembongkar.

Sekali lagi, banyak orang memiliki budaya escapisme dalam menikmati indahnya hiburan. Namun, ada juga orang yang duduk dalam kelompok moviegoer, identiti diri dan surveillance. Cuma jumlahnya mungkin tidak begitu membahagiakan.

Saudara, kita yang mana?



Hujung entri:
Penulis novel Sebongkah Batu di Kuala Berang berjaya menaburkan nilai-nilai moral Islami melalui sebuah kisah  sejarah yang memperkaya hati. Mampukah saya menjadi sepertinya?
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

6.6.11

Tampal II

Lidah tak bertulang. Susah menjaganya. Allahu al-musta’an.

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

5.6.11

Arah Kita: Ke Mana?

Kaca cermin bingkai,
Kacanya kaca,
Kaca cermin bingkai.


Ini bukan puisi, titik.

Mencari makanan tatkala lapar,
Mencari doktor tatkala sakit,
Mencari pemberian tatkala kesempitan.

Manusia hari ini,
(barangkali termasuk diri sendiri)
Semakin melupakan Allah, semakin menjauhi Allah.
Malah, Penguasa yang menciptakan makhluk dan masalah itu
semakin tiada tempat di hati kita.

Inilah realiti kehidupan kebanyakan manusia.
Mencari manusia sebelum mencari Allah.
Meminta pertolongan manusia sebelum meminta pertolongan Allah.
Mengadu pada manusia sebelum mengadu pada Allah.

Kita hampir melupakan Dia,
Allahu Rabbuna yang pasti kekal untuk kita.
Dialah yang menciptakan ujian serta kekurangan.

Kita terlupa untuk kembali kepada-Nya dalam setiap urusan.
Kita sering menyebut nama-Nya setelah menyebut nama makhluk-Nya.

Seharusnya, ke manakah arah kita?

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”
[Surah al-Baqarah : 186]

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

3.6.11

Matematikkah ini?




Nasi Lemak + Teh Tarik = ?






___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

2.6.11

Ketika Cinta Datang Menyapa

Entri ini merupakan edisi ulang terbit di blog sendiri.
Ulang terbit bukan kerana tidak punya cerita baru untuk dikongsi.
Tapi, entah. Saya pun tidak tahu sebabnya.
Semoga Allah memimpin hati.

Aku mohon dengan sangat, pertemukanlah aku dengan lelaki itu.

Lelaki itu, telah mencuri hati kecilku.
Lelaki itu, telah menakluki jiwa kesepianku.
Lelaki itu, sudah bisa merobek jantung gelodak rinduku.
Lelaki itu, tidak pernah terpadam dalam ingatan kasihku.

Pintu hatiku telah diketuk tanpa dipinta.
Seluruh hatiku telah ditawan oleh dia.

Dia seorang lelaki. Dia seorang pria.

Lelaki itu sangat hebat. Dia punya karisma. Dia punya dedikasi. Dia punya wibawa. Dia juga punya keyakinan. Orangnya sangat ramah. Murah dengan senyuman. Aku menjadi tenang setiap kali mendengar kata-katanya. Aku menjadi kagum dengan sikapnya yang santun. Langsung tidak pernah memandang rendah terhadap aku dan wanita yang lain.

Dia sangat berani bersyarah di hadapan ramai orang. Petah berkata tanpa ragu, tanpa jemu. Ilmu agamanya sangat tinggi. Setiap yang benar, pasti akan dibelanya. Setiap yang batil, sudah tentu akan ditolaknya. Dia tetap sabar walaupun ramai manusia bergosip liar tentang dirinya. Setiap kali mendengar berita yang tidak baik tentangnya, aku menjadi marah. Ah, siapa kamu untuk menghinanya?! Tidak! Dia tidak sehina itu. Dia sangat mulia di mataku.

Bagiku, dia sangat istimewa. Perkataan, perilaku, sifat dan diamnya telah membisikkan kata-kata yang bisa menjelmakan cinta. Dia sangat luar biasa. Tidak seperti lelaki lain. Hatiku berbunga-bunga setiap kali orang-orang di sekelilingku menyebut namanya. Maha suci Allah yang menciptakan lelaki itu untuk aku!

Dia sangat tulus dalam bercinta. Dia sangat setia dalam berkasih. Sungguh, kasihnya adalah kasih yang tiada tara! Dengan izin-Nya, cinta dan kasih itu akan bertakhta buat selamanya.

Aku ingin lebih mengenali dia. Aku mengagumi peribadinya. Kami hidup di bumi yang sama, tapi di dalam daerah yang berbeza. Aku memilih jalan hidup sepertimana dia. Dia sering menitipkan kerinduan buatku. Tatkala aku luntur, dia meniupkan kata-kata semangat. Tatkala aku futur, dia memberi kata-kata nasihat. dia berjaya mengukir keimanan di jiwaku. Imannya, Subhanallah..

Aku tidak pernah kecewa dengan kekurangan yang ada pada dirinya, kerana dia adalah manusia biasa. Cuma, kadang-kadang aku jadi cemburu. Cemburu kerana ada insan lain yang telah meraih cintanya terlebih dahulu daripadaku. Ah! Aku tidak kisah semua itu.

Ya Allah,
Ku serahkan kepada-Mu
Seluruh jiwa dan ragaku
Dalam sebuah harapan bernama doa.

Aku mohon ya Allah..
Agar api cinta ini kan terus menyala
Jadikanlah aku insan yang setia dalam mencintai dia.

Kerana,
Dia yang aku maksudkan itu
adalah Kekasih-Mu..
Sinaran cahaya cintanya bukan untukku seorang,
Tapi untuk sekalian manusia..
Bahkan untuk sekalian alam.

Ya Rasulullah..
Moga kita kan bertemu suatu hari nanti dalam keredhaan Tuhan kita.

___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

1.6.11

Indahnya Tenang

Segala pujian untuk-Mu, Allah..
Tuhan yang memberi ketenangan kepada hati,
tersenyum sendiri mengenang kisah semalam,
bersedih hati kerana merasa ketenangan berlalu pergi.

Hati cemburu melihat manusia khusyuk,
khuduk menghambakan diri kepadanya.

Hati cemburu melihat seorang abid,
Cintanya disambut Kekasih hatinya.

Ah! ingin sekali aku menjerit kepada dunia,
memberi tahu sekalian makhluk yang ada di dalamnya,
bahawa tidak ada rugi meluah rasa kepada-Nya, Tuhan Yang Esa.

Kini, tenang itu kembali.
Syukur.

Moga nur syahadahku tetap menyelubungi.
Sekalipun tidak, biarlah ia tetap bersinar
di balik celahan kekalutan kalbu,
menerangi hari-hariku dengan cahaya iman
juga amal soleh yang tidak punya penghujung.

Seronoknya hidup menjadi hamba Tuhan Yang Maha Memberi.
Indahnya mati menjadi hamba Tuhan Yang Maha Mencintai.
Subhanallah.. Maha Suci Allah
yang menciptakan segalanya untuk sekalian makhluk-Nya.

Biarkanlah hati ini kan terus leka dalam sujudnya, dalam rukuknya.
Memohon dengan penuh ikhlas,
meminta dengan penuh harap,
bersangka baik terhadap Sang Pemilik kuasa
agar kenikmatan yang tiada tara
itu dapat dirasa walau secebis cuma.

Tuhan,
izinkanlah aku memberi cinta.
Tuhan,
sambutlah ia dengan penuh cinta.

_
Nota Entri: 
*khusyuk : dengan sebulat hati dan bersungguh-sungguh
*khuduk : tunduk dan akur
*abid : hamba yang banyak melakukan ibadah
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

29.5.11

Entah Apa-Apa

Mengekspresi dari dasar hati. Salahkah?



___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

28.5.11

Yang Pertama Sekali

Jam 9.05 malam, seorang lelaki memberi salam sebaik sahaja kakinya melangkah masuk ke dewan kuliah. Orangnya kecil, zuhudnya besar. Lelaki yang dipanggil ustaz itu datang memenuhi rutinnya mengisi kuliah. Semua pelajar yang hadir sibuk mencari tempat duduk. Rata-rata mereka baru selesai bersolat Isya’.

Kelas pengajian hadith pada malam itu berlangsung seperti biasa. Minggu ini ustaz telah megupas sebuah hadith. Matannya biasa sahaja disebut-sebut. Maksudnya pula sering sahaja dikupas diulas. Sabda baginda s.a.w berkaitan niat menjadi inti perbincangan dalam kelas pengajian itu.

“Siapakah orang pertama yang akan dicampakkan ke dalam neraka?” Satu soalan dilontarkan oleh ustaz di awal bicara. Nadanya bersahaja.

“Saya beri kamu pilihan jawapan. A Abu Lahab, B Abu Jahal, C Firaun, D orang bukan muslim.” Ustaz menyambung.

Dewan kuliah menjadi sepi seketika. Masing-masing orang berfikir.

“Em.. A Abu Lahab!” Satu suara terpacul memecah sunyi.

“C Firaun!” Seorang lagi pelajar menjawab.

“Mana satu jawapan yang betul ni? Ada kata A ada kata C.” Ustaz bersuara lagi.

“Baik, saya nak tanya. Yang jawab A, kenapa Abu Lahab yang akan dicampakkan dulu? Kalau diikutkan, Firaunlah yang sepatutnya masuk neraka dulu, sebab Firaun hidup sebelum Abu Lahab kan?” Ustaz bertanya lagi.

Suasana senyap kembali menyelimuti dewan kuliah. Ada beberapa orang pelajar mengangguk, setuju. Ada juga yang tidak memberi tindak balas apa-apa melainkan terus setia menadah telinga dengan dahi yang berkerut.

“Kalau Firaun yang dicampakkan dahulu ke neraka, atas sebab apa pula? Bukankah banyak lagi manusia yang hidup sebelum Firaun? Betul tak?” Ustaz menghalakan lagi soalan. Sengaja memprovokasi.

Allahu Akbar! Soalan ustaz ini benar-benar bikin kepala saya pusing.

“Nanti kita lihat siapa orang pertama yang dicampakkan ke neraka. Orang itu ada di antara kita.”

Zappp! Darah gemuruh saya menjadi. Takut mendengar pernyataan yang dibuat oleh ustaz sebentar tadi. Tidak tahu bagaimana saya mahu menggambarkan rasa takut itu. Sungguh, hanya Allah sahaja yang tahu. Merasakan diri yang mungkin menjadi calon pertama dihisab dan dihumban ke dalam neraka, saya beristighfar. Terbayang api yang marak menyala disertai dengan binatang-binatang berbisa, ditambah pula dengan nanah yang busuk dan panas, Allah.. saya lemas. Sangat tidak mahu berada berdekatan pintunya, apatah lagi duduk baring di dalamnya.

Kuliah hadith pada malam itu diteruskan. Satu demi satu isu ditimbulkan. Sengaja membuatkan sidang pendengar berfikiran. Isi kuliah disampaikan dengan potongan-potongan hikmah dari sunnah juga Quran. Lancar lidah ustaz beromongan.
Hampir satu jam lebih berkuliahan, semua pelajar memperoleh jawapan. Kembali kepada persoalan, siapakah manusia pertama yang akan dicampakkan?

“Hah! Sekarang mari kita lihat siapa orang pertama yang bakal dihumban ke dalam neraka.”

Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dinyatakan bahawa:
"Sesungguhnya orang yang mula-mula diadili pada hari kiamat ialah seorang lelaki yang telah mati syahid, setelah dia didatangkan kepada Allah s.w.t, Allah s.w.t memperingatkan nikmat-Nya dan dia mengakui nikmat-nikmat itu. Lalu Allah s.w.t bertanya, "Apakah yang telah kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?" Orang itu berkata ,"Saya berperang di jalan-Mu sehingga saya telah gugur syahid." Allah berfirman, "Kamu dusta, sebaliknya kamu berperang supaya kamu dikatakan pahlawan dan perkara itu telah kamu peroleh.” Lalu Allah perintahkan dia diheret dengan muka terlangkup lalu dicampak ke dalam neraka.

Orang kedua yang diadili ialah seorang lelaki yang telah belajar ilmu pengetahuan, mengajarkannya dan membaca al-Quran, dia didatangkan ke hadapan Allah s.w.t dan Allah memperingatkan nikmat-nikmat yang telah diberi kepadanya dan dia mengakui nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya. Allah berfirman, “Apakah yang telah engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?" Lelaki itu berkata, "Saya belajar ilmu dan telah mengajarkannya dan saya membaca al-quran kerana-Mu.” Allah berfirman, "Kamu berdusta, sebaliknya kamu belajar supaya kamu dikatakan 'alim dan kamu membaca al-Quran kerana ingin dikatakan Qari lalu kamu memperolehinya.” Lalu Allah perintahkan dia diheret dengan muka terlangkup lalu dicampak ke dalam neraka.

Orang ketiga ialah seorang lelaki yang Allah telah permudahkan rezeki dan mengurniakannya pelbagai harta, setelah didatangkan ke hadapan Allah s.w.t dan Allah memperingatkan nikmat-nikmat yang telah diberi kepadanya dan dia mengakui nikmat-nikmat yang Allah berikan itu. Allah berfirman, “Apakah yang telah engkau lakukan terhadap nikmat-nikmat itu?" Lelaki itu berkata, "Saya telah membelanjakan pada jalan-jalan yang Engkau suka, untuk mendapatkan keredhaan-Mu.” Allah berfirman, “Kamu dusta, kamu membelanjakannya supaya kamu dikatakan seorang dermawan dan sesungguhnya kamu telah peroleh.” Lalu Allah perintahkan dia diheret dengan muka terlangkup lalu dicampak ke dalam neraka".

Allahu a'lam. Berdoalah semoga kita terhindar daripada tergolongan dalam tiga golongan ini.


_
Nota Entri: 
*Hadith di atas adalah sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Sahihnya, hadis no: 1905 (kitab al-Imarah, bab orang yang berperang kerana riya').
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

27.5.11

Tampal I

Nasihat Kiai Lukman pada Ayyas:
“Eling-elingo yo Ngger, endahe wanojo iku sing dadi jalaran batale toponing poro santri lang santri agung!”
(Ingatlah Nak, kecantikan wanita itu yang jadi sebab para santri dan satria agung gagal bertapa!)
[Habiburrahman El Shirazy: Bumi Cinta]


Wejangan Kiai Rais:
“Ilmu bagai nur (sinar). Dan nur tidak bisa datang dan ada di tempat yang gelap. Karena itu, bersihkan hati dan kepalamu, supaya nur itu bisa datang, menyentuh dan menerangi qalbu kalian semua.”
[A. Fuadi: Negeri 5 Menara]


Hari ini, saya terpaksa mengaku!
Mengakui kehebatan penangan indahnya bicara dari coretan mata pena yang tajam.
Subhanallah.. Semoga kami bisa menuliskan kebenaran demi kebenaran.


_
Nota Entri: 
*wejangan: nasihat
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"

26.5.11

Rintih Hamba Pembenci Dosa

Dalam hening Subuh membelah
Sebelum tampak semburat merah
Kala fajar hampir merekah
Masih beradu di perbaringan indah
Membiar badan dibungkus lelah.

Oh, iman yang lemah!
Mengapa benar sukar meredah
Berbuat pahala merasa payah?!

"Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredaan); dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya."
[Surah al-'Ankabut : 69]


Pesanan:
Mari jadi soleh. Mari jadi solehah.
_
___________________________________________________________________________________
KHAYR ANNISA @ khayrannisa.blogspot.com 
"Hidup mati biarlah untuk-Nya"